Coretan-coretan sang Mahasiswa Pendidikan Bahasa Arab Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang......
Tampilkan postingan dengan label Nahwu I. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nahwu I. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2014

Jumlah Ismiyah

جملة إسمية
(المبتداء مع خبره)


Makalah
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Nahwu I
Dosen Pengampu: Ahmad Zuhrudin, M.Ag.



Disusun oleh:
Laely Zulfa                         113211007
M. Ulil Abshor                   113211008

                                                                          

FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012

I.         PENDAHULUAN
Bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur’an dan Hadits. Umat Islam tidak akan bisa menggali, mengetahui, dan memahami ajaran Islam yang sesungguhnya tanpa memiliki kemampuan menggali, mengetahui, memahami, dan menguasai bahasa Arab. Ilmu Nahwu adalah ilmu yang membahas tentang kaidah-kaidah yang digunakan untuk mengetahui hukum kalimat berbahasa Arab.
Karena kaum muslimin wajib mempelajari ilmu agama, maka dengan sendirinya dituntut untuk sedikit banyak mengerti bahasa Arab. Tanpa memiliki kemampuan berbahasa Arab, umat Islam akan buta terhadap agamanya sendirinya.
Salah satu problem yang dirasakan umat Islam non Arab, termasuk Indonesia adalah kesulitan mempelajari bahasa Arab. Jumlah para sarjana dan kaum intelektual juga masih banyak yang belum mampu membaca kitab kuning. Padahal kitab kuning adalah kitab standar dan rujukan dalam mempelajari dan memahami ajaran agama Islam.
Dalam makalah ini akan dijelaskan sebagian kecil dari ilmu Nahwu, yaitu hal-hal yang berkaitan dengan jumlah ismiyah (mubtada’ dan khobar).

II.      RUMUSAN MASALAH
A.       Apa pengertian jumlah ismiyah?
B.       Apa pengertian mubtada’?
C.       Apa saja macam-macam mubtada’?
D.       Apa pengertian khobar?
E.        Apa saja macam-macam khobar?
F.        Apa saja hal-hal yang memperbolehkan membuat mubtada’ berupa isim nakiroh?

III.   PEMBAHASAN
A.  Definisi Jumlah Ismiyah
Jumlah ismiyah adalah jumlah yang terdiri dari mubtada’ dan khobar.

B.       Definisi Mubtada’
المبتداء هو الإسم العارى عن العوامل اللّفظيّة
Mubtada’ ialah isim yang dibaca rofa’ yang bebas dari amil lafdzi.[1]
Contohnya:  الطّالب ماهر، الطّالبان ماهران، الطّلاّب ماهرون
C.       Pembagian Mubtada’
Mubtada’ dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Mubtada’ lahul khobar
Adalah mubtada’ yang mempunyai khobar.
Seperti:  زيد عاذر  Zaid adalah orang yang memaafkan.
2.      Mubtada’ lahul fa’il sadda masaddal khobar
Adalah mubtda’ yang hanya mempunyai fa’il yang menduduki tempatnya khobar.
Seperti: أسار ذان Apakah kedua orang ini sedang melakukan perjalanan?[2]

D.       Definisi Khobar
الخبر هو الإسم المرفوع المسند إلى المبتداء
Khobar ialah isim yang dibaca rofa’ yang disandarkan kepada mubtada’.
الخبر هو الجزء المتمّ الفائدة
Khobar ialah juz (bagian) yang menyempurnakan faidah bersama-sama mubtada’.[3]
Contohnya:   الرّجل صالح، الرّجلان صالحان، الرّجال صالحون

E.       Pembagian Khobar
Khobar dibagi menjadi dua, yaitu:
1.      Khobar mufrod
Yaitu khobar yang bukan berupa jumlah (kalimat) dan bukan pula menyerupai jumlah.[4]
Contoh:  المسلم حاظر، المسلمان حاظران، المسلمون حاظرون
Khobar mufrod dibagi menjadi dua, yaitu:
a.      Khobar mufrod jamid
Yaitu khobar yang tidak berupa lafadz-lafadz yang musytaq. Khobar mufrod yang lafadznya sepi dari dhomir yang kembali kepada mubtada’.[5]
Seperti:  محمّد صديقك
b.      Khobar mufrod musytaq
Yaitu khobar yang berupa lafadz-lafadz yang tercetak dari mashdar, seperti isim fa’il, isim maf’ul, dll. Khobar mufrod ini wajib mengandung dhomir yang ruju’ pada mubtada’ (robith) yang wajib disimpan.[6]
Seperti:  محمّد عالم taqdirnya محمّد عالم هو
2.      Khobar ghairu mufrod
Khobar ghairu mufrod yaitu khobar yang terdiri dari jumlah.
Khobar ghairu mufrod dibagi menjadi dua, yaitu:
a.      Khobar jumlah
Khobar jumlah dibagi menjadi dua, yaitu:
1)      Jumlah ismiyah
Khobar ini terdiri dari mubtada’ dan khobar.
Contoh:  حسن أمّه مدرّسة
2)      Jumlah fi’liyah
Khobar ini terdiri dari fi’il dan fa’il.
Contoh:    حسن تدرس أمّه
b.      Khobar syibh jumlah
Khobar syibh jumlah dibagi menjadi dua, yaitu:
1)      Jar dan majrur
Khobar ini terdiri dari amil jar dan yang di-jar-kan.
Contoh:  الأستاذ في الجامعة
2)      Dhorof
Khobar ini bisa berupa dhorof makan atau dhorof zaman.
a) dhorof makan: keterangan tempat.
Contoh:  السّيّارة امام البيت
b) dhorof zaman: keterangan waktu.
Contoh:  الهلال كلّ ليلة

F.        Mubtada’ yang berupa Isim Nakiroh
Pada hukum asalnya, membuat mubtada’ berupa isim nakiroh itu tidak diperbolehkan, selama tidak memberikan faidah. Sedangkan jika berfaidah, maka diperbolehkan.
Hal-hal yang memperbolehkan membuat mubtada’ berupa isim nakiroh antara lain:
1.      Mubtada’nya didahului oleh khobar yang berupa dhorof atau jar majrur.
Contoh:   عند زيد كتاب
2.      Isim nakirohnya didahului istifham.
Contoh:  هل فتى فيكم
3.      Isim nakirohnya didahului nafi.
Contoh:   ما إمرأة في هذا المعهد
4.      Isim nakirohnya disifati.
Contoh:   رجل من الكرام عندنا
5.      Isim nakirohnya beramal.
Contoh:  أمر بالمعروف صدقة
6.      Isim nakirohnya diidhofahkan.
Contoh:   عمل برّ يزين


الصّبر

وعن أبي مالك الحارث بن عاصم الأشعري رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلّى الله عليه وسلّم: الطّهور شطر الإيمان والحمد لله تملأ الميزان وسبحان الله والحمد لله تملأن أو تملأ ما بين السّماوات والأرض والصّلاة نور والصّدقة برهان والصّبر ضياء والقرأن حجّة لك أو عليك. كلّ النّاس يغدو فبائع نفسه فمعتقها أو موبقها. رواه مسلم
وعن أبي سعيد سعد بن مالك بن سنان الخدري رضي الله عنهما: أنّ ناسا من الأنصار سألو رسول الله صلّى الله عليه وسلّم فأعطاهم ثمّ سألوه فأعطاهم حتّى نفد ما عنده فقال لهم حين أنفق كلّ شيئ بيده: ما يكن عندي من خير فلن أدخره عنكم ومن يستعفف يعفه الله ومن يستغن يغنه الله ومن يتصبّر يصبّره الله. وما أعطي أحد عطاء خيرا وأوسع من الصّبر. متّفق عليه. (رياض الصالحين)   

IV.   PENUTUP
A.    Kesimpulan
1.      Jumlah ismiyah adalah jumlah yang terdiri dari mubtada’ dan khobar.
2.      Mubtada’ adalah isim yang dibaca rofa’ yang bebas dari amil lafdzi.
3.      Mubtada’ dibagi menjadi dua, yaitu:
4.      Khobar adalah isim yang dibaca rofa’ yang disandarkan kepada mubtada’.
5.      Khobar dibagi menjadi dua, yaitu:
a.       Khobar mufrod
b.      Khobar ghairu mufrod
6.      Mubtada’ boleh berupa isim nakiroh jika:
a.       Mubtda’nya didahului khobar yang berupa dhorof atau jar majrur.
b.      Isim nakirohnya didahului istifham.
c.       Isim nakirohnya didahului nafi.
d.      Isim nakirohnya disifati.
e.       Isim nakirohnya beramal.
f.       Isim nakirohnya diidhofahkan.

B.     Penutup
Demikianlah makalah yang telah kami susun. Kami menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaat bagi para pembaca.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar, Moch., Ilmu Nahwu, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995.
Dahlan, Sayyid Ahmad bin Zaini, Syarah Mukhtashor Jiddan ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, Indonesia: Daru Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, t.th.
Sholihuddin, M., Pengantar Memahami Alfiyyah ibnu Malik, Jombang: Darul Hikmah, 2005.
‘Aqil, Bahaud bin Abdullah ibn, Alfiyyah Syarah ibnu ‘Aqil, Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2006.




[1] Sayyid Ahmad bn Zaini Dahlan, Syarah Mukhtashor Jiddan ‘ala Matn al-Ajurumiyyah, (Indonesia: Daru Ihya’ al-Kutub al-Arabiyyah, t.th.), hlm. 15.
[2] Bahaud bin Abdullah ibn ‘Aqil, Alfiyyah Syarah ibnu ‘Aqil, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 2006), hlm. 124-125.
[3] M. Sholihuddin, Pengantar Memahami Alfiyyah ibnu Malik, (Jombang: Darul Hikmah, 2005), hlm. 127.
[4] Moch. Anwar, Ilmu Nahwu, (Bandung: Sinar Baru Algesindo, 1995), hlm. 88.
[5] Sholihuddin, Op.Cit., hlm. 129.
[6] Ibid.

Tanwin

TANWIN
 Tanwin

MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah: Nahwu
Dosen Pengampu: Ahmad Zuhrudin, M. Ag


  

Oleh:
Muh. Eka Syafiul Umam     113211029
Miftachul Ichwan                  113211031



FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI WALISONGO
SEMARANG
2012



Tanwin
I.                   Pendahuluan
Al-Qur’an merupakan wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dengan bentuk memakai bahasa arab. Belajar bahasa arab memag suatu hal yang memang perlu dilakukan, karena seperti yang kita ketahui bahwa bahasa arab merupakan bahasa internasional ke dua, maka dari itu kita harus mendalami dan lebih memahami mengenai penerapan dan juga penggunaan bahasa arab dengan baik dan benar.
 Tidak menutup kemungkinan bahwa disetiap lafadz Al-Qur’an mengandung unsur nahwu, shorof dan balaghoh. Untuk mengetahui hal itu, kita perlu terlebih dahulu mendalami tentang ilmu nahwu dan shorof tersebut, seperti halnya pada sub bagian ilmu nahwu yang menggagas mengenai tanwin, yang insyaallah akan kita bahas pada pertemuan kali ini, dan pemakalah akan mencoba menyimpulkan berbagai pengertian-pengertian yang mungkin masih sulit untuk kita tangkap.
II.                Rumusan Masalah
A.    Apakah pengertian dari tanwin?
B.     Apa sajakah macam-macam tanwin?
III.             Pembahasan
A.    Pengertian tanwin
Tanwin menurut bahasa adalah bersuara, sedangkan tanwin menurut istilah adalah nun za’idah (tambahan) lagi mati yang berada di akhir kalimat isim dari segi ucapan tidak dalam tulisan.[1]
B.     Macam-macam tanwin
1.      Tanwin Tamkin : yaitu tanwin yang terdapat pada isim mu’rab selain jama’ muanats salim atau isim mu’tal akhir yang ghairu munshorif atau disebut juga tanwin standar yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim yang Mu’rab selain Jamak Mu’annats Salim dan Isim yang seperti lafadz جوار dan غواش (ada pembagian khusus).
Contoh: زيد dan رجل di dalam contoh :
جَاءَ زَيْدٌ هُوَ رَجُلٌ (Zaid telah datang dia seorang laki-laki)
2.      Tanwin Tankir: yaitu Tanwin penakirah yang pantas disematkan kepada Kalimat-kalimat Isim Mabni sebagai pembeda antara Ma’rifahnya dan Nakirahnya. Seperti Sibawaeh sang Imam Nahwu (yang Makrifah) dengan Sibawaeh yang lain (yang Nakirah). Contoh: مَرَرْتُ بِسِبَوَيْهِ وَبِسِبَوَيْهٍ آخَرَ
(Aku telah berjumpa dengan Sibawaeh (yang Imam Nahwu) dan Sibawaeh yang lain).[2]
3.      Tanwin Muqabalah: yaitu Tanwin hadapan yang pantas disematkan kepada Isim Jamak Mu’annats Salim (Jamak Salim untuk perempuan). Karena statusnya sebagai hadapan Nun dari Jamak Mudzakkar Salimnya (Jamak Salim untuk laki-laki).
Contoh: أفْلَحَ مُسْلِمُوْنَ وَمُسْلِمَاتٌ (Muslimin dan Muslimat telah beruntung)
4.      Tanwin ‘Iwadh: atau Tanwin Pengganti, ada tiga macam:[3]
a.       Tanwin Pengganti Jumlah : yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz إذ sebagai pengganti dari Jumlah sesudahnya.
Contoh Firman Allah:
وَأنْتُمْ حِيْنَئِذٍ تَنْظًرُوْنَ (Kalian ketika itu sedang melihat)
Maksudnya ketika nyawa sampai di kerongkongan. Jumlah kalimat ini dihilangkan dengan mendatangkan Tanwin sebagai penggantinya.
b.      Tanwin Pengganti Kalimah Isim: yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada Lafadz كل dan بعض sebagai pengganti dari Mudhaf Ilaihnya. Contoh:
كَلٌّ قَائِمٌ (Semua dapat berdiri)
Maksudnya Semua manusia dapat berdiri. Kata manusia sebagai Mudhaf Iliahnya dihilangkan dan didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.
c.       Tanwin Pengganti Huruf : yaitu Tanwin yang pantas disematkan kepada lafadz جوار dan غواش dan lain-lain sejenisnya, pada keadaan I’rab Rafa’ dan Jarrnya.
Contoh:
هَؤُلاَءِ جَوَارٍ. وَمَرَرْتُ بِجَوَارٍ
(Mereka itu anak-anak muda. Aku berjumpa dengan anak-anak muda)
Pada kedua  lafadz جوار asal bentuknya جواري kemudian Huruf Ya’ nya dibuang didatangkanlah Tanwin sebagai penggantinya.
Pembagian macam-macam Tanwin yang telah disebutkan di atas, merupakan Tanwin yang khusus untuk tanda Kalimat Isim. Itulah yang dimaksudkan dari kata Tanwin dalam Bait tsb, yaitu Tanwin Tamkin, Tanwin Tankir, Tanwin Muqabalah dan Tanwin ‘Iwadh.
5.      Tanwin ziyadah (tambahan) seperti ayat سَلَا سِلًا وَأَهْلًا menurut qira’ah sebagian ulama membaca ‘salasila’ dengan memakai tanwin. Kalimat ‘salasila’ yang ditambahi tanwin tersebut untuk menyesuaikan dengan kalimat ‘aghlalan’ sesudahnya.[4]
6.      Tanwin taranum, yaitu tanwin yang bertemu qafiyah muthlaqoh (hidup), seperti ungkapan penyair:
أَقِلِّي اللَّوْمَ عَاذِلَ وَالْعِتَابَنْ # وَقُوْلِي إِنْ أَصَبْتُ لَقَدْ أَصَابَنْ
Sedikitkan wahai perempuan mencela dan menyalahkan kepada Adzil dan katakanlah jika aku benar berarti ia juga benar.
7.      Tanwin hikayat, seperti ungkapan orang Arab: قَالَتْ عَاقِلَةٌ dibaca tanwin, yang asalnya adalah nama seorang perempuan. Oleh karena itu, sebenarnya ia adalah isim ghairu munsharif dengan ‘ilat ‘alamiyyah dan ta’nits, yang dijadikan sebagai hikayat dengan menggunakan sebuah ungkapan sebelum menjadi isim ‘alam
8.      Tanwin dharurat, seperti ungkapan penyair:
سَلَامُ اللهِ يَا مَطَرٌ عَلَيْهَا # وَلَيْسَ عَلَيْكَ يَا مَطَر السّلَامِ
 Wahai Mathar, kesejahteraan Allah semoga menaungi kekasih. Dan wahai Mathar, tidak ada kesejahteraan bagimu.
Pada syair di atas, penyair membaca tanwin pada lafazh ‘Mathar’ pada bagian syatar  awal, sementara seharusnya ia dibaca mabni dhammah tanpa  tanwin, karena isim ghairu munsharif.
9.      Tanwin ghali, yaitu tanwin yang bertemu dengan qafiyah qayyadah (mati), seperti ungkapan penyair:
قَالَتْ بَنَاتُ الْعَمِّ يَا سَلْمَى وَإِنِنْ # كَانَ فَقِيْرًا مُعْدِمًا وَإِنِنْ
Anak-anak perempuan paman berkata: wahai salma, jika ia seorang fakir miskin. Salma berkata: sekalipun fakir miskin
10.  Tanwin syadz, seperti ungkapan orang Arab: هَؤُلَاءٍ قَوْمَكَ dengan dibaca tanwin lafazh ‘haula’i’ sebagai bacaan syadz (cacat).[5]
y7ù=Ï? ã@ߍ9$# $oYù=žÒsù öNßgŸÒ÷èt/ 4n?tã ­­­­<Ù÷èt/ ¢ Nßg÷YÏiB `¨B zN¯=x. ª!$# ( yìsùuur óOßgŸÒ÷èt/ ;M»y_uyŠ 4 $oY÷s?#uäur Ó|¤ŠÏã tûøó$# zOtƒötB ÏM»uZÉit7ø9$# çm»tRô­ƒr&ur ÇyrãÎ/ Ĩßà)ø9$# 3 öqs9ur uä!$x© ª!$# $tB Ÿ@tGtGø%$# tûïÏ%©!$# .`ÏB NÏdÏ÷èt/ .`ÏiB Ï÷èt/ $tB ÞOßgø?uä!%y` àM»oYÉit6ø9$# Ç`Å3»s9ur (#qàÿn=tG÷z$# Nåk÷]ÏJsù ô`¨B z`tB#uä Nåk÷]ÏBur `¨B txÿx. 4 öqs9ur uä!$x© ª!$# $tB (#qè=tGtGø%$# £`Å3»s9ur ©!$# ã@yèøÿtƒ $tB ߃̍ムÇËÎÌÈ
IV.             Kesimpulan
A.    Bahwasanya tanwin adalah suara nun mati yang berada di akhir kalimat isim yang nampak dalam ucapan namun tidak nampak dalam tulisan.
B.     Tanwin dibagi menjadi dua, yaitu;
1.      Ashil:
a.       Tanwin tamkin
b.      Tanwin tankir
c.       Tanwin muqobalah
d.      Tanwin ‘iwadh
2.      Ghairu ashil
a.       Tanwin ziyadah (tanasub)
b.      Tanwin tarannum
c.       Tanwin hikayat
d.      Tanwin dharurat
e.       Tanwin ghaliy
f.       Tanwin syadz
V.                Penutup
Demikian adalah persembahan makalah atau persentasi makalah yang kami sajikan, semoga dari pebuatan kecil ini dapat menginspirasikan kita semua untuk terus berlomba dalam hal kebaikan, terus beramal dengan niat tulus dan ikhlas, karena dan untuk allah.
Kami tentunya menyadari masih ada banyak kekurangan dalam makalah ini, untuk itu kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca atau peserta diskusi sangat kami nantikan demi terciptanya makalah yang lebih baik pada edisi makalah yang selanjutnya.



DAFTAR PUSTAKA

Mu’minin, Iman Saiful, Kamus Ilmu Nahwu Dan Sharaf,  Jakarta: AMZAH, 2008.
As-Suyuti, Jalalluddin, Syarah Ibnu ‘Aqil, Surabaya: Al-Hidayah,T.Th.Tegal Rejo, Pengurus Podok Pesantren, Sulam At-Tashil, Magelang:PP Tegal Rejo, 1993.
Ya’qub, Amil Badi’, Nahwu Wa Sharfu Wa I’rab, Rembang: Maktabah Anwariyah, 1988.













[1] Iman Saiful Mu’minin, Kamus Ilmu Nahwu Dan Sharaf,  (Jakarta: AMZAH, 2008), hlm. 61.
[2] Pengurus Podok Pesantren Tegal Rejo, Sulam At-Tashil, (Magelang:PP Tegal Rejo, 1993), hlm. 5.
[3] Jalalluddin As-Suyuti, Syarah Ibnu ‘Aqil, (Surabaya: Al-Hidayah,T.Th), hlm. 4.
[4] Amil Badi’ Ya’qub, Nahwu Wa Sharfu Wa I’rab, (Rembang: Maktabah Anwariyah, 1988), hlm.275.
[5] Iman Saiful Mu’min. Op. Cit. hlm, 62-63.